About Me

Guru Juga Manusia, Penilaiannya Bisa Salah Terhadap Anak Didik, Momen Pembagian Rapot Tegang dan Santai




LINGGA - Suara hati itu berbisik. Apakah nilai aku bagus untuk semester tahun ini. Ya, begitulah rata-rata yang selalu berbisik didalam hati seorang siswa. Harap-harap cemas dan was-was ketika pembagian raport berlangsung. Karena mereka juga ingin mengetahui berapa nilainya untuk semester ganjil kali ini. 

Sebelum pembagian rapot itu pun para siswa sudah mulai bertanya-tanya kepada guru. Apakah nilai saya bagus pak. Oia pak, bagaimana dengan nilai saya pak. Apakah saya tuntas pak. Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan seputar nilai. 





Ya, bagi seorang siswa nilai itu sangatlah berharga. Sangat penting. Namun untuk mendapatkan nilai yang bagus dari guru, siswa juga harus terampil dalam menyelesaikan semua pembelajaran yang diberikan guru. Baik itu pengetahuan, ketarampilan dan sikap. Itu semua akan dinilai sebagai referensi guru untuk mengukur kemampaun siswa.  Karena setiap guru juga  punya penilaianya masing-masing terhadap anak didiknya. Mulai dari pembelajaran, mengerajakan tugasa, hingga kehadiran siswa di sekolah. Dan tidak ada guru yang ingin siswa mereka gagal dalam setiap pembelajaran. 

Baca Juga : Ini Lho Tujuan Tujuan Upacara Senin Pagi

Detik-detik pembagian rapot itu pun berlangsung. Semua siswa berkumpul di depan kelas, menunggu wali kelasnya masuk untuk menyerahkan hasil pembelajaran siswa selama satu semester ini. Ada yang tampak wajahnya tegang, merungut, dan ada yang santai, slow ada yang juga bahagia. Ada juga yang pasrah berapapun nilai yang didapati akan diterima dengan lapang dada. Ada juga siswa yang tidak peduli dengan nilainya. Ya, macam-macam sifat dan karakter anak terhadap penilain guru. 

"Pak-Pak, Apakah saya mendapat juara," celoteh siswa itu ketika hendak pembangian rapot. Para siswa itu pun sudah tidak sabaran lagi menunggu momen penyerahan rapot ini. 

Selama pembagian rapot kali ini saya memang tidak menyebutkan juara dan peringkat kelas.  Hanya saja, menjelaskan kepada siswa jika ada nilainnya tuntas dan ada yang juga tidak tuntas. Dan kepada siswa agar belajar ditingkatkan lagi. Selain itu, hal itu dilakukan karena jika fokus pada peringkat tertinggi dapat menciptakan tekanan berlebihan pada siswa untuk selalu menjadi yang terbaik. Ini dapat menciptakan beban stres yang tinggi dan mempengaruhi kesejahteraan mental siswa.

Namun, momen pembagian rapot ada saja siswa  ingin mengetahui ia peringat ke berapa. Mungkin karena sudah terbiasa ia mengetahui peringkat kelas saat di bangku Sekolah Dasar (SD). 

"Pak, saya dapat peringat ke berapa ya pak," tanya seorang siswa itu. Saya pun menegaskan bahwa apapun peringat yang kalian  dapatkan dan perlu diingat bahwa peringat kelas itu hanyalah selembaran kertas. 

"Dan bagi yang tidak tuntas, ini bukanlah akhir dari segalanya. Karena saya yakin, kita semua adalah manusia ungul, manusia pilihan. Nilai itu hanyalah selembaran kertas dan jangan jadikan referensi kegagalan dan kesuksesna hidup kita," tegas saya. Karena kita semua sedang dalam proses dalam hidup ini. 

Beberapa siswa mungkin tidak nyaman dengan sorotan yang terlalu besar atas prestasi akademis mereka. Privasi dan preferensi individu juga perlu dihormati. Tidak semua siswa memiliki kemampuan untuk mencapai peringkat tertinggi secara akademis. 

Dalam pembagian raport kali ini, orangtua memang tidak diundang untuk menerima rapot. Namun beberapa wali murid yang siswanya nilai Tidak Tuntas atau dibawah KKM, maka sekolah melayangkan dan memanggil orangtua siswa untuk datang ke sekolah. Hal itu dilakukan agar wali murid dapat mengetahui perkembangan anak selama belajar di sekolah ini. 


Post a Comment

0 Comments